Luwu Timur – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Luwu Timur tak hanya menjadi panggung perayaan pembangunan daerah.
Di balik kemeriahan acara, perhatian publik justru tertuju pada sebuah pemandangan yang dinilai sarat makna politik, hadirnya Andi Hatta Marakarma dan kembali absennya mantan Bupati Luwu Timur, Budiman.
Di tengah deretan tamu kehormatan dan undangan VIP yang memadati Lapangan Pendidikan Malili, Senin (8/6/26), sosok Andi Hatta tampak hadir seperti biasa. Mantan bupati dua periode itu kembali menunjukkan komitmennya menghadiri momentum penting daerah yang pernah dipimpinnya.
Namun di sisi lain, kursi yang kerap dikaitkan dengan Budiman kembali tidak terisi.
Absennya Budiman dalam perayaan HUT Luwu Timur kembali memantik beragam tafsir di tengah masyarakat.
Apalagi, informasi yang beredar menyebutkan bahwa yang bersangkutan berada di wilayah Luwu Timur pada saat acara berlangsung.
Kondisi tersebut membuat publik mulai mempertanyakan alasan di balik ketidakhadirannya.
Jika sebelumnya absensi bisa dikaitkan dengan agenda luar daerah atau kesibukan lain, kali ini spekulasi berkembang lebih luas karena kehadirannya di Luwu Timur disebut-sebut diketahui sejumlah kalangan.
“Yang menjadi perhatian bukan sekadar hadir atau tidak hadir. Tapi karena beliau disebut berada di Luwu Timur saat acara berlangsung. Itu yang kemudian memunculkan banyak pertanyaan di masyarakat,” ujar seorang warga Malili.
Bagi sebagian masyarakat, kehadiran Andi Hatta dalam berbagai agenda daerah menunjukkan sikap bahwa pergantian kepemimpinan tidak mengurangi penghormatan terhadap momentum-momentum penting daerah. Sosok yang akrab disapa Opu Hatta itu dinilai mampu memisahkan dinamika politik dari komitmennya terhadap Luwu Timur.
Kehadiran konsisten tersebut kemudian menjadi pembanding yang sulit diabaikan publik. Terlebih HUT daerah selama ini dipandang bukan sebagai panggung satu figur atau satu pemerintahan, melainkan milik seluruh masyarakat Luwu Timur.
Pengamat politik lokal menilai, dalam dunia politik modern, simbol dan gestur sering kali berbicara lebih keras dibanding pidato. Kehadiran atau ketidakhadiran seorang tokoh dalam momentum besar daerah dapat membentuk persepsi publik yang beragam.
Karena itu, absennya Budiman kembali menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat. Sebagian menilai hal tersebut sebagai pilihan pribadi yang harus dihormati. Namun tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai momentum yang terlewat untuk menunjukkan kebersamaan pasca kontestasi politik.
Terlepas dari berbagai tafsir yang berkembang, satu hal yang menjadi sorotan adalah kontras yang terlihat jelas di panggung HUT ke-23 Luwu Timur, ketika seorang mantan pemimpin hadir untuk menghormati sejarah daerahnya, mantan pemimpin lainnya kembali menjadi tanda tanya besar di tengah perayaan masyarakat.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kursi kosong itu akhirnya berbicara lebih banyak daripada kata-kata.






