Sorowako — Semangat emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini menemukan relevansi baru di sektor industri tambang. PT Vale Indonesia Tbk menjadi salah satu contoh bagaimana transformasi kesetaraan gender berlangsung secara terukur melalui pendekatan sistematis.
Hingga Maret 2026, jumlah pekerja perempuan di PT Vale mencapai 363 orang atau 12,37 persen dari total 2.934 karyawan. Angka ini menunjukkan tren peningkatan konsisten sejak 2021 yang berada di level 8,6 persen.
Distribusi pekerja perempuan juga memperlihatkan pertumbuhan di berbagai wilayah operasi, termasuk Pomalaa (26,53 persen), Sorowako (10,14 persen), dan Morowali (22,77 persen).
Tak hanya dari sisi jumlah, peningkatan juga terjadi pada jenjang karier. Perempuan kini mengisi berbagai posisi strategis, mulai dari level staf hingga manajemen, termasuk peran teknis seperti operator alat berat.
Head of Corporate Communications PT Vale, Vanda Kusumaningrum, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi berbasis Diversity, Equity & Inclusion (DEI).
“Komitmen kami bukan hanya membuka akses, tetapi memastikan perempuan punya peluang berkembang secara optimal di seluruh level organisasi,” jelas Vanda.
Perusahaan menerapkan rekrutmen berbasis kompetensi tanpa bias gender, serta membangun pipeline talenta melalui kerja sama dengan institusi pendidikan dan program vokasi.
Selain itu, PT Vale juga memperkuat pengembangan karier melalui program kepemimpinan perempuan, mentoring, serta keterlibatan dalam proyek strategis.
Di sisi kebijakan, perusahaan mengedepankan pendekatan inklusif melalui perlindungan terhadap diskriminasi, fasilitas ramah perempuan, hingga kebijakan cuti yang mendukung keseimbangan peran.
Meski demikian, tantangan struktural industri yang didominasi laki-laki masih menjadi pekerjaan rumah.
“Perubahan ini membutuhkan waktu karena kita berbicara tentang budaya yang sudah terbentuk lama,” kata Vanda.

