Sorowako — Nama R.A. Kartini kembali digaungkan setiap 21 April. Namun di balik seremoni, semangatnya kini hidup di ruang-ruang yang dulu dianggap mustahil bagi perempuan—termasuk industri tambang.
Di lingkungan PT Vale Indonesia Tbk, perempuan tak lagi sekadar hadir, tetapi mulai mengambil peran penting, dari operator alat berat hingga posisi manajemen.
Hingga 2026, sebanyak 363 perempuan tercatat bekerja di perusahaan ini. Jumlah tersebut memang belum dominan, namun menunjukkan arah perubahan yang jelas: perempuan mulai menembus batas.
Lebih dari sekadar angka, perubahan ini terasa dari keberanian perempuan menjalani pekerjaan teknis hingga sistem kerja shift, termasuk malam hari—sesuatu yang dulu nyaris tak terbayangkan.
Head of Corporate Communications PT Vale, Vanda Kusumaningrum, menyebut bahwa perjalanan ini bukan proses instan.
“Komitmen kami bukan hanya membuka akses, tetapi memastikan perempuan punya peluang berkembang secara optimal di seluruh level organisasi,” ujarnya.
Bagi perusahaan, kesetaraan bukan sekadar slogan. Berbagai kebijakan diterapkan, mulai dari ruang laktasi, perlindungan dari diskriminasi, hingga program pengembangan kepemimpinan perempuan.
Di sisi lain, komunitas internal seperti Vale Women Network menjadi ruang bagi pekerja perempuan untuk saling menguatkan dan berbagi pengalaman.
Namun tantangan tetap ada. Industri tambang masih identik dengan dominasi laki-laki.
“Perubahan ini membutuhkan waktu karena kita berbicara tentang budaya yang sudah terbentuk lama,” kata Vanda.
Meski begitu, harapan terus tumbuh. Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pemimpin dan agen perubahan.
“Perempuan diharapkan tidak hanya hadir sebagai pekerja, tetapi sebagai pemimpin, inovator, dan agen perubahan,” harap Vanda.

