Bukan Lagi ‘Limbah’, PT Vale Sulap Bijih Nikel Kadar Rendah Jadi Rebutan Industri Baterai Dunia

kareba
kareba
3 Min Read
oplus_0

Luwu Timur – Paradigma industri pertambangan di Luwu Timur tengah bergeser secara radikal. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) kini tidak hanya mengejar bijih nikel kadar tinggi (saprolit), melainkan mulai serius menggarap limonite bijih nikel kadar rendah yang selama ini kerap dianggap sebagai material sisa menjadi produk bernilai tinggi untuk rantai pasok kendaraan listrik (Electric Vehicle EV).

Melalui megaproyek Sorowako Limonite Ore Project (Sorlim), anggota holding MIND ID ini menargetkan Indonesia menjadi pemain kunci dalam ekosistem energi bersih global.

Dalam media gathering di Sorowako, Kamis (16/4/2026), perusahaan mengungkap bahwa teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) akan menjadi dapur utama untuk mengubah limonite menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Produk inilah yang kini menjadi buruan produsen baterai mobil listrik dunia.

Hingga Maret 2026, progres konstruksi proyek Sorlim dilaporkan telah mencapai 42 persen dan ditargetkan on-stream pada pertengahan 2027. Fasilitas pendukung seperti stockpile, sediment pond, hingga akomodasi pekerja pun telah rampung.

“Proyek Sorlim merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam rantai pasok global energi bersih. Kami memastikan pengembangannya dilakukan secara terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan,” ujar Manager of Construction Sorowako Limonite Project, Ridwan Banda.

Sejalan dengan ambisi hilirisasi, PT Vale juga membuktikan mereka tidak meninggalkan lubang raksasa yang merusak alam. Perusahaan menunjukkan komitmen bayar lunas atas lahan yang telah dibuka.

Hingga Maret 2026, dari total 7.740 hektare area bukaan tambang, PT Vale telah mereklamasi 3.877 hektare atau lebih dari 50 persen.

Tak tanggung-tanggung, 5,8 juta bibit pohon lokal telah ditanam kembali, termasuk 80 ribu pohon kayu hitam (ebony) yang merupakan spesies endemik Sulawesi.

“Keberlanjutan merupakan landasan utama dalam setiap keputusan bisnis kami. Kami memastikan pertumbuhan operasional berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah.

PT Vale juga menerapkan konsep ekonomi sirkular yang unik. Slag atau sisa pemurnian nikel tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan untuk pengerasan jalan di kawasan pertanian, seperti di Kebun Nanas Pondata. Inisiatif ini membantu petani mendapatkan akses jalan yang lebih layak secara gratis.

Di sisi sosial, 139 UMKM binaan di wilayah Sorowako hingga Malili terus didorong untuk naik kelas. Kerja keras ini pun membuahkan hasil dengan diraihnya dua penghargaan Indonesia SDGs Award 2025 kategori Gold dan Platinum.

Share This Article
Leave a comment