JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatat kinerja keuangan solid pada triwulan I 2026 meskipun produksi nikel matte mengalami penurunan.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$252,7 juta, dengan EBITDA US$80,1 juta dan laba bersih US$43,6 juta, meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Produksi nikel matte tercatat 13.620 ton, turun dari 17.052 ton pada triwulan IV 2025. Penurunan ini sejalan dengan strategi pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 serta penyesuaian rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.
Kinerja keuangan tetap terjaga berkat kenaikan harga jual rata-rata nikel matte menjadi US$14.213 per ton, naik 15% secara triwulanan.
Dari sisi operasional, 2026 menjadi tonggak penting dengan mulai beroperasinya tiga blok tambang utama, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Perseroan juga mencatat penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa sebagai bagian dari diversifikasi bisnis.
CEO Bernardus Irmanto mengatakan, perusahaan tetap mampu menjaga margin dan disiplin keuangan di tengah dinamika pasar global.
“Kami terus memperkuat portofolio bisnis melalui ekspansi dan efisiensi operasional,” ujarnya.
Selain itu, PT Vale menandatangani fasilitas pembiayaan berbasis keberlanjutan (Sustainability-Linked Loan) senilai US$750 juta, yang menjadi yang pertama di sektor pertambangan Asia Tenggara.

