Lawan Stigma Tambang, PT Vale Sukses Panen Padi Berkelanjutan di Kolaka: Sekali Tanam, 8 Kali Panen

kareba
kareba
3 Min Read

KOLAKA – Di tengah masifnya industri pertambangan di Sulawesi Tenggara, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) membuktikan bahwa aktivitas keruk bumi bisa berjalan mesra dengan sektor agraria.

Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, anggota holding MIND ID ini sukses menggelar panen bersama Demplot Padi Berkelanjutan di Desa Puubunga, Kecamatan Baula, Minggu (8/3/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar panen biasa, melainkan pameran inovasi pertanian masa depan yang selaras dengan misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

Salah satu primadona dalam program ini adalah penerapan teknologi Perennial Rice dan sistem Salibu. Inovasi ini memungkinkan petani melakukan panen berulang kali tanpa harus menanam ulang bibit.

“Melalui sistem ini, petani berpotensi panen hingga delapan kali hanya dalam satu kali tanam. Ini memangkas biaya benih, persemaian, dan pengolahan lahan hingga 50 persen,” ungkap CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto.

Bernardus menegaskan, keberlanjutan bagi PT Vale bukan hanya soal menambang secara bertanggung jawab, tapi juga memastikan masyarakat di wilayah operasional memiliki ketahanan ekonomi yang mandiri melalui inovasi pertanian yang adaptif.

Program demplot seluas 36 are ini dibagi menjadi dua metode: organik dan konvensional. Hasilnya sangat menggembirakan. Pada lahan organik seluas 10 are (varietas Trisakti), produktivitas mencapai 6,9 ton. Sementara pada lahan konvensional seluas 26 are, total panen mencapai 15 ton dari enam varietas unggul yang diuji.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka, Akbar, S.Sos., MM, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia menyebut PT Vale sebagai pionir perusahaan tambang yang peduli pada sektor perut rakyat.

“Sinergi pemerintah dan perusahaan sangat dibutuhkan. PT Vale membuktikan mereka tidak hanya memikirkan SDA, tapi juga dampak berkelanjutan. Jika semua perusahaan tambang mengikuti langkah ini, swasembada pangan di Kolaka pasti terwujud,” tegas Akbar.

Keuntungan nyata dirasakan langsung oleh petani. Salmi, pengurus Asosiasi Petani Organik (ASPOK) Kolaka, mengaku metode organik yang diajarkan PT Vale membuat kantong petani lebih tebal.

“Biaya produksi jauh lebih efisien karena pupuk dibuat dari bahan sekitar. Harga jual beras organik juga lebih tinggi di pasar, sehingga keuntungan kami meningkat drastis dibanding metode lama,” kata Salmi.

Sejak 2021, program pengembangan masyarakat (PPM) PT Vale di sektor pertanian telah melibatkan puluhan petani, termasuk kelompok perempuan tani. Head External Relation Growth PT Vale, Endra Kusuma, menambahkan bahwa model demplot di Baula dan Tanggetada ini diproyeksikan menjadi “laboratorium hidup” yang akan direplikasi ke wilayah lain di Kolaka.

Panen bersama ini dihadiri pula oleh Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, jajaran Forkopimda, serta tokoh masyarakat setempat.

Share This Article
Leave a comment