Makassar – PT Vale Indonesia Tbk mulai memperluas sumber pendapatan di luar produk utama nikel matte dengan menggenjot penjualan bijih nikel saprolit serta meningkatkan investasi besar-besaran sepanjang 2025.
Dalam laporan kinerja tahunan, perusahaan mencatat penjualan bijih saprolit mencapai sekitar 2,31 juta wet metric ton (wmt). Kontribusi terbesar berasal dari blok Bahodopi dengan volume lebih dari 2 juta wmt, sementara Pomalaa masih dalam tahap uji coba produksi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi bisnis perusahaan di tengah dinamika industri nikel global.
Tak hanya itu, perusahaan juga meningkatkan belanja modal secara signifikan menjadi USD485,9 juta atau naik sekitar 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Investasi tersebut difokuskan pada pengembangan proyek tambang baru, hilirisasi, serta penguatan infrastruktur produksi jangka panjang.
Sejalan dengan ekspansi tersebut, posisi kas perusahaan tetap kuat di angka USD376,3 juta hingga akhir 2025, memberikan ruang yang cukup untuk mendukung proyek-proyek strategis ke depan.
Dari sisi operasional, produksi nikel matte tercatat sebesar 72.027 ton, dengan pengiriman mencapai 73.093 ton sepanjang tahun.
Memasuki 2026, perusahaan akan memfokuskan pengembangan pada proyek Pomalaa yang saat ini telah mencapai sekitar 60 persen tahap pengembangan tambang.
Sementara itu, pembangunan fasilitas pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) telah mencapai sekitar 50 persen dan ditargetkan memasuki tahap penyelesaian mekanis pada kuartal III 2026.
Dengan kombinasi ekspansi tambang, hilirisasi, dan diversifikasi produk, perusahaan optimistis dapat memperkuat pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan daya saing di industri nikel global.

