PDAM Waemami Lutim Paparkan Kinerja dan Tantangan Pengelolaan Air Bersih

kareba
kareba
4 Min Read

Luwu Timur – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Waemami Kabupaten Luwu Timur menggelar media gathering di Mu Nads Sorowako, Sabtu (29/11), untuk memaparkan capaian kinerja serta sejumlah tantangan pengelolaan air bersih.

Direktur PDAM Luwu Timur, Andi Maryam menjelaskan selama empat tahun masa kepemimpinannya, PDAM Lutim yang kini berusia 20 tahun terus menunjukkan peningkatan layanan dan dinilai sebagai salah satu PDAM dengan perkembangan tercepat di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan penilaian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kata Andi Maryam, PDAM Lutim berhasil menduduki peringkat ke-8 sebagai PDAM tersehat di Sulsel.

Saat ini, kata Andi Maryam, jumlah pelanggan tercatat lebih dari 20 ribu lebih sambungan, meliputi wilayah pelayanan dari Burau hingga Wasuponda.

Selain sebagai salah satu PDAM termuda di Sulsel, PDAM Lutim juga memiliki sumber air baku melimpah dengan tarif air yang masih tergolong rendah.

Meski demikian, Andi Maryam mengakui masih terdapat berbagai hambatan dalam proses pengaliran air.

“Salah satunya adalah kerusakan intake di sumber air Desa Jalajja pada tahun 2023 yang terbawa arus sungai. Kerusakan tersebut membuat PDAM harus menggunakan instalasi sederhana yang rentan rusak, terutama saat hujan deras. PDAM juga telah meminta dukungan dari Balai, mengingat intake tersebut merupakan aset yang berada di bawah kewenangan mereka,” jelasnya.

Kualitas air baku yang menurun ketika curah hujan tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Andi Maryam menegaskan air tidak akan dialirkan apabila tidak memenuhi standar kesehatan sesuai Permenkes. Sejumlah wilayah seperti Mangkutana turut terdampak keruhnya air akibat perubahan kontur tanah pascagempa Palu.

Pengembangan jaringan juga terbatas di beberapa area, seperti Balai Kembang yang masuk kawasan cagar alam. Di wilayah tersebut, PDAM hanya dapat memaksimalkan sistem gravitasi dan menghindari penggunaan pompa.

Selain itu, Andi Maryam juga menegaskan pemanfaatan sumber air bukanlah kegiatan tanpa biaya, PDAM wajib membayar pajak air baku ke pemerintah daerah, serta mengurus izin pengambilan air dan izin kawasan hutan setiap tahun.

“Sejumlah wilayah lain juga mendapat perhatian khusus, termasuk Angkona, Lakawali, dan Lakawali Pantai yang memiliki akses air cukup sulit. Di Tarabbi, sistem pompa bahkan sempat meledak akibat air masuk ke mesin,” tuturnya.

Adapun di Malili, perbaikan dilakukan bertahap mengingat wilayah ini merupakan ibu kota kabupaten. PDAM juga menambah instalasi baru di daerah Ussu dan kawasan transmigrasi untuk mengurangi hambatan aliran saat musim hujan.

Sementara itu, di Wasuponda, sumber air berasal dari Kali Dingin. Kondisi tanah kapur menjadi kendala pengembangan, namun perbaikan jaringan listrik memungkinkan PDAM membangun instalasi berkapasitas 20 liter per detik yang kini melayani lebih dari 8.000 pelanggan. Jaringan pelanggan di kecamatan ini telah mencapai seribu lebih dan masih terus dibenahi.

Di akhir kegiatan, Direktur PDAM menegaskan komitmen PDAM Lutim untuk terus menghadirkan air bersih sesuai standar kesehatan.

Ia juga menegaskan banyaknya praktik sambungan ilegal yang dilakukan sebagian masyarakat. Sambungan tanpa meteran tersebut menyebabkan kebocoran jaringan dan menghambat pendataan pelanggan.

“Pembangunan PDAM harus dilakukan berkelanjutan. Perbaikan membutuhkan biaya besar, tetapi kami berkomitmen meningkatkan kualitas layanan demi masyarakat,” ujarnya.

 

Topik:
Share This Article
Leave a comment