PT Vale IGP Pomalaa Mulai Penjualan Perdana Bijih Nikel, Investasi Tembus Rp74 Triliun

kareba
kareba
3 Min Read

KOLAKA – Raksasa pertambangan nikel berkelanjutan, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), resmi mencatatkan sejarah baru di Bumi Mekongga. Per hari ini, Minggu (1/3/2026), Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa resmi memulai penjualan perdana bijih nikelnya.

​Momentum “pecah telur” ini menandai transisi krusial proyek dari fase konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan (revenue-generating phase). Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik (EV).

​Proyek IGP Pomalaa bukan sekadar tambang biasa. Dengan nilai investasi terintegrasi mencapai Rp74,44 triliun (setara US$4,43 miliar), proyek ini merupakan pilar utama agenda hilirisasi nasional.

​Penjualan perdana ini dimungkinkan setelah aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1. Kedua lokasi ini dirancang sebagai jantung distribusi material dengan kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit.

​Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, mengungkapkan bahwa aktivasi pit tersebut adalah langkah strategis untuk menjaga ritme produksi agar tetap optimal dan berkelanjutan.

​”Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan,” tegas Asril dalam keterangannya, Minggu (1/3).

​Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa langsung tancap gas. Perusahaan menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan, atau setara dengan 9.677 ton per hari.

​Strategi peningkatan produksi (ramp-up) ini dilakukan secara disiplin untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa, sekaligus memitigasi risiko gangguan operasional di tengah volatilitas pasar komoditas dunia.

​Meski sudah mulai menghasilkan cuan, pembangunan infrastruktur pendukung tetap menjadi prioritas utama. Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan IGP Pomalaa telah menyentuh angka 65,76 persen.

​Salah satu infrastruktur vital, yaitu Main Haul Road (MHR) atau jalan utama pengangkutan menuju stockpile, kini progresnya sudah mencapai 40 persen. Jalur ini akan menjadi “tulang punggung” distribusi material dari tambang menuju pelabuhan dan pabrik pengolahan, yang diprediksi akan memangkas biaya logistik secara signifikan.

​Sebagai bagian dari holding MIND ID, langkah PT Vale di Pomalaa ini diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, tetapi juga menciptakan efek domino ekonomi bagi masyarakat Sulawesi Tenggara melalui penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan ekonomi lokal yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Share This Article
Leave a comment